Kamis, 10 Agustus 2017

Mengelola patah hati...

Wujud nyata dari rasa yang berlebihan yang diberikan kepada orang yang kurang atau tidak tepat adalah patah hati. Logika mengatakan bahwa dia belum layak atau (bisa jadi) kita yang belum layak untuknya, atau yang terparah, dia yang kita berikan rasa sudah memberikan perasaannya kepada orang lain. Sering kali kita mengabaikan hal-hal kecil tersebut.

Kita juga tidak bisa menyesalkan sebuah pertemuan, yang datang dalam hidup tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberikan pelajaran dan pengalaman, hanya saja caranya berbeda-beda. Ada yang nantinya memberikan akhir yang bahagia dan ada yang pada akhirnya membuat kita sungguh menderita.

Untuk yang disebutkan terakhir, penderitaan atau patah hati yang kita rasakan adalah perasaan yang temporer, yang bisa kita kelola bahkan bisa langsung kita ctrl+del. Meskipun masih menyisakan bekas di recycle bin, pada saatnya kita juga akan kembali melakukan bersih-bersih dan menghilangkan segala jejak yang tertinggal.

Satu hari, dua hari, bahkan satu minggu, satu bulan, hingga satu tahun (ini sebenarnya lebay, hehe..) setelah kepergian orang yang kita cintai adalah sepahit-pahitnya kehidupan. Kita merasa orang yang paling menderita di muka bumi, ditinggalkan kekasih hati yang dahulu mengisi hari-hari indah kita.

Mari kita jabarkan kehadiran dia di kehidupan kita. Dia membuat kita menjadi orang yang paling beruntung, dia menjadikan kita orang yang paling berbahagia, dia membuat kita semangat menjalani hari demi hari, dia menjadikan kita manusia yang produktif, dia memperhatikan setiap detail kehidupan kita.

Setelah hal-hal tersebut hilang, perlahan kita merasa hari-hari kita biru, kehilangan kebiasaan-kebiasaan saat bersamanya. Satu hal yang perlu diingat, agar tetap waras setelah kepergian orang yang sangat kita cintai. Segala sesuatu yang datang, pada akhirnya akan pergi. Entah itu pergi karena sudah takdir dari Yang Maha Kuasa, ataupun pergi karena pilihannya sendiri.

Saat perasaan sedang berkabung, nikmatilah. Jika memang sedih, nikmatilah kesedihan itu, pada akhirnya kita akan tahu arti menghargai diri sendiri. Jika harus menangis, menangislah sejadi-jadinya, jangan menutup kesedihan dengan senyum atau tawa palsu hanya karena ingin dibilang manusia tegar. Buat perjanjian dengan diri sendiri, berapa lama waktu yang kita inginkan untuk masa berkabung. Setelah melewati waktu yang ditentukan, berjanjilah tidak akan lagi terlibat pada kesedihan yang sama.

Pada saat itu, kita dapat meyakinkan kembali diri kita, bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu kita yang ciptakan. Untuk setiap orang yang datang adalah bunga yang menghiasi taman kehidupan kita, dia bisa mekar pada saatnya dan layu bahkan gugur pada akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar