Rabu, 25 Mei 2016

You're the man, you're my best friend..


Pernah punya sahabat? Ya, setiap orang punya teman yang mereka sebut sahabat. Sahabat adalah mereka yang tahu sifat terbaik hingga terjelekmu dari A-Z. Bukah hanya sifat, bahkan semua yang berhubungan dengan kehidupanmu. Tapi kali ini gue tidak akan mendefinisikan arti dari sahabat itu.

Sedikit bercerita tentang salah seorang sahabat yang menurut gue adalah sosok yang sangat bisa nge-up mood, pun itu dalam kondisi sangat-sangat labil.

Beberapa hari ini mood gue lagi hancur banget, membuat gue ogah-ogahan melakukan aktifitas. Baik itu kerja, berbenah kamar, bahkan melakukan aktifitas dimedia sosial. Apalagi berkomunikasi dengan manusia-manusia yang ada dilingkungan gue. Rasanya.. Uh! Jauhin dulu deh manusia-manusia yang ingin berinteraksi dengan gue. Terdengar egois sih, tapi mau bagaima lagi. Wong saya lagi bad mood..

Walaupun malas-malasan, sesekali gue berinteraksi dengan beberapa orang di WhatsApp -- ada orang tua dan bos, termasuk si sahabat. Saat komunikasi dengan doi, gue berusaha agar setiap percakapan berlangsung seperti biasanya, sebisa mungkin ngga terlihat seperti orang yang sedang bad mood. Untuk permasalahan ini gue lebih milih memendam ketimbang bercerita, seperti permasalahan-permasalahan yang sebelumnya dengan gamblang gue ceritakan ke beberapa orang teman.

Nah........ Sahabat merasa kalau gue beda, ngga seperti biasanya.

"Kenapa? Ada masalah? Cerita dong"

"Sedikit"
"Kok, ngga semangat banget nge-chat?"
"Lagi males-malesnya, maaf"
"Oh.. ya udah tenangin diri dulu deh"
"Makasih"

(15 menit kemudian)

"Bolot! Cerita dong"

"Ntar aja kalau ketemu, panjang kalau diceritakan"
"Ya ngga apa-apa, pengantarnya saja. Atau kamu mau menjauh dari aku?"
"Engga" (antara emosi dan sedih)
"Ya makanya cerita, kamu ngga menghargai hubungan ini, jangan membatasi!"

(ceritain masalah yang bisa dibilang aib)

Tadinya sih pengen ceritain garis besarnya, eh malah kebablasan cerita semua. Mungkin udah sampai pada titik puncak dan memang seharusnya gue ceritakan, supaya ngga nyampah di otak.

Apa yang ada difikiran sahabat gue ketika ngelihat gue dalam kondisi terpuruk begini? Antara dia benar-benar peka, peduli, atau hanya sekedar kasihan. Sudahlah, gue benci menebak-nebak fikiran manusia. Dalam penilaian gue, dia sosok manusia yang peduli banget dengan kehidupan antar manusia, terutama manusia yang berada didalam lingkaran kehidupannya.

Nasehat demi nasehat dia lontarkan ke gue, sederhana tapi sangat menolong.



Ini hanya sepotong percakapan malam itu. Dia melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Dia tak menylahkan masalah yang gue alami dan tidak juga memenangkan gue. Yang dia ingin gue bangkit, lihat dan hadapi masalah itu. Menjelang menemukan momentum untuk berbicara gue harus berfikir menggunakan logika, ya, gue harus membuktikan kalau gue tumbuh dengan logika yang baik. Dia juga mengatakan, diusia gue masalah ini belum ada apa-apanya. Masih banyak permasalahan besar yang akan gue hadapi nantinya.


Kata-katanya yang sampai saat ini melekat difikiran "jangan habiskan masa produktif kamu hanya karena hal cetek begini.. Sholat dan minta dipermudahkan!".

Memang sudah seharusnya gue berfikir demikian bukan? Untuk apa gue berdiam dan meratapi setiap permasalahan yang datang. Sangat mengganggu usia produktif gue. Harusnya pada usia ini gue fokus mikirin hal-hal yang dapat membuat gue berkembang. Pertanyaan sederhananya, mau jadi apa gue nanti? Dan apa yang bisa gue kasih untuk dunia kelak?

Benar atau tidak yang dia bilang, paling engga dia bisa meredakan emosi gue malam itu. Gue sengaja nulis agar suatu saat apabila gue lupa ingatan dikarenakan usia atau hal lainnya, gue bisa membaca dan mengingat-ingat kembali bahwa gue pernah punya sahabat yang selalu ada, peduli, dan mampu melihat gue bukan dari sisi kebahagiaan saja. Sahabat yang mampu melihat kesedihan saat dunia tak bersahabat, biarpun gue berusaha menutupinya dengan berpura-pura bahagia dan seolah tidak terjadi apa-apa. Ya, dia mampu membaca kesedihan gue, bahkan dalam kata sekalipun.

-untuk seorang sahabat yang tak usah disebut namanya-

-Terimakasih-

Selasa, 24 Mei 2016

Sepenggal Cerita Tentang Kejujuran





Dikutip dari tulisan Wisnubrata wartawan Kompas.com

Dalam rangkaian cerita Awadana, ada kisah soal ajakan untuk mencuri.
Diceritakan, Bodhisattwa terlahir kembali dalam keluarga brahmana. Di masa mudanya, ia belajar kepada guru yang bijak.

Suatu saat, sang guru ingin menguji murid-muridnya. Sang guru berkata, “ Ah, susahnya hidup melarat. Andai bisa berkecukupan.” Mendengar keluhan itu, murid-muridnya segera berkeliling ke rumah-rumah warga untuk memintakan makanan bagi guru mereka.

Menerima pemberian itu, guru berkata, “Aku sudah cukup mendapat makanan. Tapi hanya harta yang bisa menyingkirkan kemiskinan.” Murid-murid pun bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan?” Guru menjawab, “Ada cara lain mendapatkan harta seperti tertulis di kitab suci. Dalam keadaan melarat, brahmana boleh mencuri, karena kemiskinan adalah duka terberat. Kalian boleh mencuri asal jangan sampai terlihat siapa pun.”

Demi cinta dan bakti pada gurunya, murid-murid pun bergegas pergi untuk mencuri. Hanya Bodhisattwa yang terdiam. Ia menolak melakukan perbuatan itu. Saat gurunya bertanya mengapa ia tidak ikut mencuri, Bodhisattwa menjawab, “Aku menolak bukan karena takut atau tidak patuh. Tapi tidak mungkin mencuri tanpa terlihat, sebab ada diri sendiri yang melihatnya.”

Sang guru tersenyum mendengar jawaban itu, dan berkata pada murid lainnya. “Karena nafsu dan alasan mencintai, orang dungu meninggalkan kewajiban. Namun orang bijak tak membiarkan dirinya tersesat meskipun dalam derita besar, karena pengendalian diri dan kebijaksanaan adalah harta mereka.”

Kala diminta mencuri demi gurunya sebagai ujian, brahmana muda menolak, sebab selalu ada diri yang mengetahui perbuatannya. Ia memiliki kesadaran diri, sesuatu yang juga dimiliki Seladi, dan sebaiknya juga kita miliki.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sepenggal cerita sederhana yang menggetarkan hati saya, masih adakah secuil manusia yang berfikir seperti Bodhisattwa? Atau cerita diatas hanyalah sekedar cerita yang pada kenyataannya tidak ada manusia seperti itu--bahkan diri saya sendiri, entahlah..