Sabtu, 18 Februari 2017

Satu hari setelah kepergiannya

Dia..
Wanita yang saat ini tengah bermuram durja, tersebab seorang pria dari masa lalu. Masa lalu yang tak pernah menjelaskan bahwa suatu saat ia akan terjebak pada situasi yang bahkan masa lalunya sendiri tidak bisa menjelaskan tujuannya.

Pria itu menjadi teman baiknya sedari kepindahannya ke kota besar itu, ya, sahabatnya, walaupun bisa dibilang lebih. Pria yang menurutnya mempunyai pemikiran dan gagasan yang cemerlang. Pria yang setiap hari menanyakan keadaannya. Pria yang setiap hari memberikan perhatian-perhatian sederhana. Pria yang selalu memberikan semangat. Pria yang selalu membuat garis senyum dibibirnya bertahan dengan mengingat lelucon-lelucon, yang bisa dibilang, tidak lucu. Pria yang berhasil menaklukan hatinya, ini salah.

Pada akhirnya, dia memutuskan untuk pergi diam-diam dari kehidupan pria itu. Dia tak bisa terus-terusan berharap pada yang salah. Dia sadar kali ini adalah kemustahilan yang tak bisa disemogakan.

Satu hari setelah kepergiannya, dia merasa sangat bersalah. Dia selalu membaca pesan terakhir dari sang pria, "meskipun berat, tetap semangat", cukup untuk membuat dunianya membeku, pagi menjadi tak seramah biasanya, sorepun enggan menunjukkan kehangatan.

Satu hari setelah kepergiannya, sesungguhnya tidak sampai satu hari seperti yang tertuliskan. Dia masih berharap agar sang pria selalu disisinya. Dia yakin, sang pria kecewa pada keputusan sepihaknya. Dia yakin sang pria masih ingin menjadikanya sebagai sandaran kepenatan, seyakin dirinya tak bisa memiliki sang pria.

Satu hari setelah kepergiannya, dia merasakan lagi patah hati untuk yang entah keberapa kalinya, kali ini, patah hati yang dirasakannya, sungguh maha dahsayat!

Selasa, 20 Desember 2016

Tentang..

Tetaplah engkau disini
jangan datang lalu kau pergi
jangan anggap hatiku
jadi tempat persinggahanmu
untuk cinta sesaat

-- HiVi - Pelangi

Bait lagu HiVi cukup untuk mewakilkan perasaan kami sebagai wanita yang menjadi tempat persinggahan kalian, wahai Tuan yang mempunyai hak penuh untuk memilih.


Terlibat perasaan yang mendalam selama setahun, dua tahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun atau lebih dengan seorang pria adalah hal luar biasa yang pernah kami rasakan. Kami menggantungkan harapan yang cukup besar, setelah banyak hal yang kita lalui berdua.


Kita sama-sama pernah merasakan malu untuk memulai komunikasi disaat awal perkenalan. Kita merasakan indahnya saling jatuh cinta dan menjaga rasa itu tetap utuh bertahun-tahun lamanya. Kita pernah melewati pertengkaran demi pertengkaran yang memproses kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan lebih dewasa. Bahkan kita sama-sama pernah mengimpikan membangun sebuah keluarga kecil.


Ingatkah kamu saat aku merasa belum siap diperkenalkan dengan keluargamu? Kamu meyakinkan, seolah akulah wanita yang pantas untuk menjadi bagian dari keluarga besarmu. Begitupun sebaliknya, saat kita bersusah payah meyakinkan keluarga besarku agar kamu dapat diterima seperti keluargamu menerima kehadiranku.



Tidak cukupkah kisah kasih sederhana itu mengantarkanmu pada tujuan akhir (bersamaku)?

Bukan perkara kami menggantungkan harapan besar pada kalian, kami pun tidak mau menjadi manusia munafik. Sederhananya, pantaskah waktu yang kami berikan berakhir dengan ketidakpastian? 


Kami hanyalah wanita yang lekat dengan kata lemah dan rapuh, selain rasa cinta dan sebentuk kasih sayang, apalagi yang bisa kami tunjukkan kepada kalian? Jangankan untuk bernyaman-nyaman dengan beberapa lelaki, mencari satu saja sulit rasanya. Jika sudah merasakan nyaman pada satu tempat, kami akan berusaha menjadikan itu surga yang tidak akan pernah kami tinggalkan.


Untukmu Tuan pemilik rasa, jika kalian belum siap menjadikan kami pelabuhan terakhir, ada baiknya kalian terus berlayar hingga benar-benar lelah. Carilah apa yang kalian inginkan, temukan apa yang menurut kalian pantas. Jangan jadikan kami persinggahan sementara. Meninggalkan harapan, lalu pergi tanpa kata, mencari tempat berlabuh lainnya.



Parahnya, harapan yang kalian tawarkan menyebabkan kami terpaku pada satu tempat dengan alasan klasik -- 'menunggu' (sesuatu yang tidak pasti)

Kami tahu pilihan ada ditangan kalian, secantik, sepintar, atau sesukses apapun kami -- kaum wanita, tetaplah kalian yang akan menentukan. Memastikan siapa yang berhak mendampingi hidup kalian. Tapi, sekali lagi kami mohon jika belum ada niat untuk memilih, jangan hujani kami dengan harapan kosong.



Bila tak ingin disini, jangan berlalu-lalang lagi
Biarkanlah hatiku, mencari cinta sejati
-- HiVi - Pelangi

Terbit di hipwee tanggal 02 Desember 2016