Rabu, 28 Februari 2018
The End of February
Jakarta lagi dingin-dinginnya malam ini, ketika aku melihat sesosok wanita duduk sendiri bersama sebuah pena dan buku catatan di atas meja sebuah cafe. Di atas meja wanita itu juga kulihat tiga gelas minuman dan sebatang rokok yang menyala di atas sebuah asbak hitam. Dua diantara tiga gelas itu tampak kosong. Dari gelasnya bisa kutebak, yang diminum wanita itu adalah Martini.
Aku menghabiskan malam bercerita panjang lebar dengan temanku sambil sesekali mencuri padang ke arah wanita itu. Kulihat ia menggenggam pena dan mencoretkannya ke sebuah buku kecil. Dalam hati aku menerka-nerka apa yang dituliskannya, catatan harian, agenda kerja, catatan hutang, atau list persiapan pernikahannya. Ah! Apa urusanku.
Tatapannya kosong ketika bibirnya menghisap dalam rokok, yang kemudian perlahan mengeluarkan asap. Kembali ia meneguk minuman dari gelas yang masih ada isinya. Aku masih bertanya-tanya di dalam hati, bersama siapa dia di tempat yang ramai dan berisik ini? Aku tebak dia menunggu seseorang, bisa jadi, karena tempat ini sangat tidak aman untuk seorang wanita yang duduk sendirian.
Kuperhatikan wanita itu sedang asyik menulis sambil sesekali kunikmati kentang goreng di atas mejaku. Diiringi lagu Perfect dari Ed Sheeran, menambah syahdu malam ini. Orang-orang sibuk menikmati malam, ada yang bernyanyi, tertawa, makan, minum, berdansa, lagi-lagi kulihat ke arah wanita itu, ia tak sedang menulis, melainkan menundukkan kepala. Aku fikir itu hal yang wajar bagi seseorang yang kebanyakan minum alkohol jika tidak ingin dibilang mabuk. Hehe..
Wanita itu kembali menulis, kali ini aku benar-benar bisa melihat mukanya dengan jelas, matanya terlihat sendu, tak berapa lama kemudian air mata membasahi pipinya. Aku fikir itu juga wajar untuk seseorang yang merasa kesepian di tengah keramaian.
Beberapa saat kemudian kudengar wanita itu memesan minuman lagi, artinya akan ada empat gelas di atas mejanya. Cukup banyak untuk diminum sendiri kufikir. Wanita itu menyalakan lagi rokok yang entah untuk keberapa kalinya ketika kulihat seorang pria mendatanginya. Akhirnya ada teman juga, gumamku dalam hati.
Dan pada saat lagu I Don’t Wanna Miss a Thing dari Aerosmith diputarkan, kudengar wanita itu menangis dan mengeluarkan suara yang cukup keras, mukanya disembunyikan di antara tangan yang dilipat di atas meja. Sontak perhatianku fokus pada satu arah. Tak lama kemudian dia berusaha bangkit dan terjatuh. Untungnya sang teman sigap memegang badannya yang terkulai. “Kebanyakan minum”, kataku pada temanku.
Wanita itu dibopong oleh temannya, bukan urusanku dibawa kemana, semoga dia aman dan selamat. Lalu pandanganku tertuju pada satu buku di atas meja yang ditempati oleh wanita tadi. Mereka lupa membawanya. Itu adalah buku yang dicoret-coret oleh wanita itu sewaktu menunggu temannya. Penasaran, diam-diam aku mengambil catatan kecil itu. Ada tulisan singkat yang perlahan kubaca.
Hai...
Apa kabar?
Dapat kupastikan kamu baik-baik saja sejak hari terakhir kita tak saling bicara. Aku ingin sedikit bercerita tentang pentingnya kamu di hidupku, tentang betapa kehilangannya saat aku tidak bisa mengetahui kabarmu dari hari ke hari. Sulit. Aku butuh orang yang mendengarkan suaraku ketika bernyanyi, aku ingin menikmati lagu bersama-sama, tanpa protes akan betapa jeleknya suaraku saat bernanyi. Cuma kamu. Aku ingin mendengar tawamu ketika aku menceritakan sesuatu yang pada kenyataannya tidak lucu, semangatku setiap paginya. Ah, aku sedih! Tidak ada itu lagi. Tapikan aku yang minta? Betul. Lambat laun aku sadar, hanya aku yang membutuhkanmu, sementara kamu tidak. Aku butuh sedikit waktu untuk bisa merasakan kehangatan saat memelukmu, menatap matamu, yang dapat kujadikan kekuatan untuk menjalani hari-hari sepi berikutnya. Tapi itu tidak begitu penting bagimu, aku tahu. Kehadiranku tidak bernilai tambah untuk kehidupanmu, harusnya kusadari sejak awal. Maafkan aku. Maafkan untuk waktumu yang tebuang sia-sia karena aku. Maafkan karena tidak bisa menjadi teman yang menyenangkan. Maafkan karena malam ini aku merindukanmu.
Kututup buku catatan kecil itu, lalu kuserahkan kepada pelayan. “Barangkali diambil lagi”, kataku.
Hubungannya berakhir, seperti malam ini yang beberapa jam lagi akan berakhir. Kuangkat gelas minumku sambil berkata “setidaknya nafas kita belum berakhir, hadapi esok, mari tersenyum”.
Kamis, 10 Agustus 2017
Mengelola patah hati...
Wujud nyata dari rasa yang berlebihan yang diberikan kepada orang yang kurang atau tidak tepat adalah patah hati. Logika mengatakan bahwa dia belum layak atau (bisa jadi) kita yang belum layak untuknya, atau yang terparah, dia yang kita berikan rasa sudah memberikan perasaannya kepada orang lain. Sering kali kita mengabaikan hal-hal kecil tersebut.
Kita juga tidak bisa menyesalkan sebuah pertemuan, yang datang dalam hidup tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberikan pelajaran dan pengalaman, hanya saja caranya berbeda-beda. Ada yang nantinya memberikan akhir yang bahagia dan ada yang pada akhirnya membuat kita sungguh menderita.
Untuk yang disebutkan terakhir, penderitaan atau patah hati yang kita rasakan adalah perasaan yang temporer, yang bisa kita kelola bahkan bisa langsung kita ctrl+del. Meskipun masih menyisakan bekas di recycle bin, pada saatnya kita juga akan kembali melakukan bersih-bersih dan menghilangkan segala jejak yang tertinggal.
Satu hari, dua hari, bahkan satu minggu, satu bulan, hingga satu tahun (ini sebenarnya lebay, hehe..) setelah kepergian orang yang kita cintai adalah sepahit-pahitnya kehidupan. Kita merasa orang yang paling menderita di muka bumi, ditinggalkan kekasih hati yang dahulu mengisi hari-hari indah kita.
Mari kita jabarkan kehadiran dia di kehidupan kita. Dia membuat kita menjadi orang yang paling beruntung, dia menjadikan kita orang yang paling berbahagia, dia membuat kita semangat menjalani hari demi hari, dia menjadikan kita manusia yang produktif, dia memperhatikan setiap detail kehidupan kita.
Setelah hal-hal tersebut hilang, perlahan kita merasa hari-hari kita biru, kehilangan kebiasaan-kebiasaan saat bersamanya. Satu hal yang perlu diingat, agar tetap waras setelah kepergian orang yang sangat kita cintai. Segala sesuatu yang datang, pada akhirnya akan pergi. Entah itu pergi karena sudah takdir dari Yang Maha Kuasa, ataupun pergi karena pilihannya sendiri.
Saat perasaan sedang berkabung, nikmatilah. Jika memang sedih, nikmatilah kesedihan itu, pada akhirnya kita akan tahu arti menghargai diri sendiri. Jika harus menangis, menangislah sejadi-jadinya, jangan menutup kesedihan dengan senyum atau tawa palsu hanya karena ingin dibilang manusia tegar. Buat perjanjian dengan diri sendiri, berapa lama waktu yang kita inginkan untuk masa berkabung. Setelah melewati waktu yang ditentukan, berjanjilah tidak akan lagi terlibat pada kesedihan yang sama.
Pada saat itu, kita dapat meyakinkan kembali diri kita, bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu kita yang ciptakan. Untuk setiap orang yang datang adalah bunga yang menghiasi taman kehidupan kita, dia bisa mekar pada saatnya dan layu bahkan gugur pada akhirnya.
Kita juga tidak bisa menyesalkan sebuah pertemuan, yang datang dalam hidup tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberikan pelajaran dan pengalaman, hanya saja caranya berbeda-beda. Ada yang nantinya memberikan akhir yang bahagia dan ada yang pada akhirnya membuat kita sungguh menderita.
Untuk yang disebutkan terakhir, penderitaan atau patah hati yang kita rasakan adalah perasaan yang temporer, yang bisa kita kelola bahkan bisa langsung kita ctrl+del. Meskipun masih menyisakan bekas di recycle bin, pada saatnya kita juga akan kembali melakukan bersih-bersih dan menghilangkan segala jejak yang tertinggal.
Satu hari, dua hari, bahkan satu minggu, satu bulan, hingga satu tahun (ini sebenarnya lebay, hehe..) setelah kepergian orang yang kita cintai adalah sepahit-pahitnya kehidupan. Kita merasa orang yang paling menderita di muka bumi, ditinggalkan kekasih hati yang dahulu mengisi hari-hari indah kita.
Mari kita jabarkan kehadiran dia di kehidupan kita. Dia membuat kita menjadi orang yang paling beruntung, dia menjadikan kita orang yang paling berbahagia, dia membuat kita semangat menjalani hari demi hari, dia menjadikan kita manusia yang produktif, dia memperhatikan setiap detail kehidupan kita.
Setelah hal-hal tersebut hilang, perlahan kita merasa hari-hari kita biru, kehilangan kebiasaan-kebiasaan saat bersamanya. Satu hal yang perlu diingat, agar tetap waras setelah kepergian orang yang sangat kita cintai. Segala sesuatu yang datang, pada akhirnya akan pergi. Entah itu pergi karena sudah takdir dari Yang Maha Kuasa, ataupun pergi karena pilihannya sendiri.
Saat perasaan sedang berkabung, nikmatilah. Jika memang sedih, nikmatilah kesedihan itu, pada akhirnya kita akan tahu arti menghargai diri sendiri. Jika harus menangis, menangislah sejadi-jadinya, jangan menutup kesedihan dengan senyum atau tawa palsu hanya karena ingin dibilang manusia tegar. Buat perjanjian dengan diri sendiri, berapa lama waktu yang kita inginkan untuk masa berkabung. Setelah melewati waktu yang ditentukan, berjanjilah tidak akan lagi terlibat pada kesedihan yang sama.
Pada saat itu, kita dapat meyakinkan kembali diri kita, bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu kita yang ciptakan. Untuk setiap orang yang datang adalah bunga yang menghiasi taman kehidupan kita, dia bisa mekar pada saatnya dan layu bahkan gugur pada akhirnya.
Sabtu, 18 Februari 2017
Satu hari setelah kepergiannya
Dia..
Wanita yang saat ini tengah bermuram durja, tersebab seorang pria dari masa lalu. Masa lalu yang tak pernah menjelaskan bahwa suatu saat ia akan terjebak pada situasi yang bahkan masa lalunya sendiri tidak bisa menjelaskan tujuannya.
Pria itu menjadi teman baiknya sedari kepindahannya ke kota besar itu, ya, sahabatnya, walaupun bisa dibilang lebih. Pria yang menurutnya mempunyai pemikiran dan gagasan yang cemerlang. Pria yang setiap hari menanyakan keadaannya. Pria yang setiap hari memberikan perhatian-perhatian sederhana. Pria yang selalu memberikan semangat. Pria yang selalu membuat garis senyum dibibirnya bertahan dengan mengingat lelucon-lelucon, yang bisa dibilang, tidak lucu. Pria yang berhasil menaklukan hatinya, ini salah.
Pada akhirnya, dia memutuskan untuk pergi diam-diam dari kehidupan pria itu. Dia tak bisa terus-terusan berharap pada yang salah. Dia sadar kali ini adalah kemustahilan yang tak bisa disemogakan.
Satu hari setelah kepergiannya, dia merasa sangat bersalah. Dia selalu membaca pesan terakhir dari sang pria, "meskipun berat, tetap semangat", cukup untuk membuat dunianya membeku, pagi menjadi tak seramah biasanya, sorepun enggan menunjukkan kehangatan.
Satu hari setelah kepergiannya, sesungguhnya tidak sampai satu hari seperti yang tertuliskan. Dia masih berharap agar sang pria selalu disisinya. Dia yakin, sang pria kecewa pada keputusan sepihaknya. Dia yakin sang pria masih ingin menjadikanya sebagai sandaran kepenatan, seyakin dirinya tak bisa memiliki sang pria.
Satu hari setelah kepergiannya, dia merasakan lagi patah hati untuk yang entah keberapa kalinya, kali ini, patah hati yang dirasakannya, sungguh maha dahsayat!
Selasa, 20 Desember 2016
Tentang..
Tetaplah engkau disini
jangan datang lalu kau pergi
jangan anggap hatiku
jadi tempat persinggahanmu
untuk cinta sesaat
-- HiVi - Pelangi
Bait lagu HiVi cukup untuk mewakilkan perasaan kami sebagai wanita yang menjadi tempat persinggahan kalian, wahai Tuan yang mempunyai hak penuh untuk memilih.
Terlibat perasaan yang mendalam selama setahun, dua tahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun atau lebih dengan seorang pria adalah hal luar biasa yang pernah kami rasakan. Kami menggantungkan harapan yang cukup besar, setelah banyak hal yang kita lalui berdua.
Kita sama-sama pernah merasakan malu untuk memulai komunikasi disaat awal perkenalan. Kita merasakan indahnya saling jatuh cinta dan menjaga rasa itu tetap utuh bertahun-tahun lamanya. Kita pernah melewati pertengkaran demi pertengkaran yang memproses kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan lebih dewasa. Bahkan kita sama-sama pernah mengimpikan membangun sebuah keluarga kecil.
Ingatkah kamu saat aku merasa belum siap diperkenalkan dengan keluargamu? Kamu meyakinkan, seolah akulah wanita yang pantas untuk menjadi bagian dari keluarga besarmu. Begitupun sebaliknya, saat kita bersusah payah meyakinkan keluarga besarku agar kamu dapat diterima seperti keluargamu menerima kehadiranku.
Tidak cukupkah kisah kasih sederhana itu mengantarkanmu pada tujuan akhir (bersamaku)?
Bukan perkara kami menggantungkan harapan besar pada kalian, kami pun tidak mau menjadi manusia munafik. Sederhananya, pantaskah waktu yang kami berikan berakhir dengan ketidakpastian?
Kami hanyalah wanita yang lekat dengan kata lemah dan rapuh, selain rasa cinta dan sebentuk kasih sayang, apalagi yang bisa kami tunjukkan kepada kalian? Jangankan untuk bernyaman-nyaman dengan beberapa lelaki, mencari satu saja sulit rasanya. Jika sudah merasakan nyaman pada satu tempat, kami akan berusaha menjadikan itu surga yang tidak akan pernah kami tinggalkan.
Untukmu Tuan pemilik rasa, jika kalian belum siap menjadikan kami pelabuhan terakhir, ada baiknya kalian terus berlayar hingga benar-benar lelah. Carilah apa yang kalian inginkan, temukan apa yang menurut kalian pantas. Jangan jadikan kami persinggahan sementara. Meninggalkan harapan, lalu pergi tanpa kata, mencari tempat berlabuh lainnya.
Parahnya, harapan yang kalian tawarkan menyebabkan kami terpaku pada satu tempat dengan alasan klasik -- 'menunggu' (sesuatu yang tidak pasti)
Kami tahu pilihan ada ditangan kalian, secantik, sepintar, atau sesukses apapun kami -- kaum wanita, tetaplah kalian yang akan menentukan. Memastikan siapa yang berhak mendampingi hidup kalian. Tapi, sekali lagi kami mohon jika belum ada niat untuk memilih, jangan hujani kami dengan harapan kosong.
Bila tak ingin disini, jangan berlalu-lalang lagi
Biarkanlah hatiku, mencari cinta sejati
-- HiVi - Pelangi
Terbit di hipwee tanggal 02 Desember 2016
Senin, 21 November 2016
Dear Ayah dan Ibu dari Ibundaku..
Seraut wajah keriput di depan saya bercerita kisah tujuh puluh tahun yang lalu. Tentang perjalanan karir dan pertemuannya dengan seorang lelaki TNI Angkatan Darat yang meminangnya beberapa bulan setelah perkenalan. Beliau adalah kakek yang belum pernah saya lihat raganya. Hanya cetakan foto usang yang dapat membuktikan bahwa saya dilahirkan dari seorang ibu yang mempunyai ayah dan ibu hebat. Ya, kakek dan nenek saya.
Matanya tak berkedip sambil mengernyitkan dahi, mencoba mengingat kenangan masa lalu yang membuatnya tersenyum hingga hari ini. "Coba buka album itu", katanya sembari menunjukkan album usang yang berisikan foto hitam putih. "Hanya ini foto-foto yang tersisa, yang lain entah kemana, mungkin dimakan tikus atau rayap", candanya diikuti senyum lebar yang memperlihatkan gigi palsu.
Sambil menunjuk foto wanita yang umurnya sekitar 18 tahunan mengenakan kebaya dan kain panjang yang dibalut membentuk rok. "Saat awal nenek menjadi seorang guru Sekolah Rakyat (saat ini Sekolah Dasar)", terangnya. Dahulu, tidak mudah bagi rakyat biasa mengikuti pendidikan di bangku sekolah. Nasib baik bagi nenek diterima dan belajar di Sekolah Rakyat yang didirikan pada zaman penjajahan Jepang.
Pada zaman itu, Indonesia sedang krisis tenaga pengajar (guru), akibat lonjakan bertambahnya siswa yang ingin mengemban ilmu di Sekolah Rakyat. Akhirnya, nenek mendapat tawaran menjadi guru Sekolah Rakyat dengan mengikuti Sekolah Guru Bawah, dimana yang dapat mengikuti pendidikan ini hanyalah murid yang telah tamat di Sekolah Rakyat.
Setelah mengajar beberapa tahun, nenek melanjutkan Kursus Guru Besar dan mendapatkan ijazah resmi sebagai tenaga pengajar ahli. Enam puluh tahun lamanya nenek menggeluti profesi sebagai seorang guru. Beberapa murid yang masih mengingatnya sering bercerita dan berterimakasih karena melalui nenek (perpanjangan tangan Tuhan) mereka dapat sukses seperti saat ini.
Selain mengajar, nenek juga terampil menjahit dan menyulam, biasanya dilakukan pada malam hari sebelum tidur. Usai mengajar, nenek menyempatkan diri untuk menjajakan dagangan di Janjang Ampek Puluah (Bukittinggi -- Sumatera Barat).
Tangan keriput nenek kembali membalikkan lembar album foto usang tadi, menunjuk pria yang sedang berfoto dengannya. Di foto itu terlihat sang pria mengenakan jas hitam celana hitam, rambutnya ditutupi peci berwarna hitam. Yang saya lihat masih foto berwarna hitam putih.
Usai meneguk air putih yang diletakkan kembali di meja tepat di samping nenek, nenek melanjutkan ceritanya tentang kakek. Tak banyak cerita yang bisa saya tangkap, yang saya pahami kakek adalah pasukan tentara Indonesia yang turut serta membela dan menjaga NKRI. Kakek juga merupakan orang kepercayaan Bapak Soemitro Djojohadikoesoemo pada saat itu.
Kakek dan nenek saya adalah warga negara Indonesia yang bersuku Minang. Nenek adalah istri kedua kakek, buah dari pernikahan itu adalah ibu saya. Dari istri pertama, kakek memiliki enam orang anak. Sungguh keluarga yang besar bukan? Inilah yang membuat saya semakin bahagia.
Kakek dan nenek adalah sosok pahlawan yang secara langsung dapat saya rasakan dampaknya di kehidupan nyata. Sosok tentara yang disiplin dan sosok guru yang cerdas adalah dua perpaduan yang sempurna bukan? Dari perpaduan sempurna tersebut lahirlah anak-anak dan cucu-cucu yang luar biasa.
Terbit di hipwee tanggal 30 November 2016
Matanya tak berkedip sambil mengernyitkan dahi, mencoba mengingat kenangan masa lalu yang membuatnya tersenyum hingga hari ini. "Coba buka album itu", katanya sembari menunjukkan album usang yang berisikan foto hitam putih. "Hanya ini foto-foto yang tersisa, yang lain entah kemana, mungkin dimakan tikus atau rayap", candanya diikuti senyum lebar yang memperlihatkan gigi palsu.
Foto usang itu adalah bukti, bahwa ada cerita luar biasa beberapa puluh tahun yang lalu
Sambil menunjuk foto wanita yang umurnya sekitar 18 tahunan mengenakan kebaya dan kain panjang yang dibalut membentuk rok. "Saat awal nenek menjadi seorang guru Sekolah Rakyat (saat ini Sekolah Dasar)", terangnya. Dahulu, tidak mudah bagi rakyat biasa mengikuti pendidikan di bangku sekolah. Nasib baik bagi nenek diterima dan belajar di Sekolah Rakyat yang didirikan pada zaman penjajahan Jepang.
Pada zaman itu, Indonesia sedang krisis tenaga pengajar (guru), akibat lonjakan bertambahnya siswa yang ingin mengemban ilmu di Sekolah Rakyat. Akhirnya, nenek mendapat tawaran menjadi guru Sekolah Rakyat dengan mengikuti Sekolah Guru Bawah, dimana yang dapat mengikuti pendidikan ini hanyalah murid yang telah tamat di Sekolah Rakyat.
Setelah mengajar beberapa tahun, nenek melanjutkan Kursus Guru Besar dan mendapatkan ijazah resmi sebagai tenaga pengajar ahli. Enam puluh tahun lamanya nenek menggeluti profesi sebagai seorang guru. Beberapa murid yang masih mengingatnya sering bercerita dan berterimakasih karena melalui nenek (perpanjangan tangan Tuhan) mereka dapat sukses seperti saat ini.
Selain mengajar, nenek juga terampil menjahit dan menyulam, biasanya dilakukan pada malam hari sebelum tidur. Usai mengajar, nenek menyempatkan diri untuk menjajakan dagangan di Janjang Ampek Puluah (Bukittinggi -- Sumatera Barat).
"Lakukan apa yang bisa kamu lakukan hari ini"
-- Nenek
Tangan keriput nenek kembali membalikkan lembar album foto usang tadi, menunjuk pria yang sedang berfoto dengannya. Di foto itu terlihat sang pria mengenakan jas hitam celana hitam, rambutnya ditutupi peci berwarna hitam. Yang saya lihat masih foto berwarna hitam putih.
Usai meneguk air putih yang diletakkan kembali di meja tepat di samping nenek, nenek melanjutkan ceritanya tentang kakek. Tak banyak cerita yang bisa saya tangkap, yang saya pahami kakek adalah pasukan tentara Indonesia yang turut serta membela dan menjaga NKRI. Kakek juga merupakan orang kepercayaan Bapak Soemitro Djojohadikoesoemo pada saat itu.
Kakek dan nenek saya adalah warga negara Indonesia yang bersuku Minang. Nenek adalah istri kedua kakek, buah dari pernikahan itu adalah ibu saya. Dari istri pertama, kakek memiliki enam orang anak. Sungguh keluarga yang besar bukan? Inilah yang membuat saya semakin bahagia.
Kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan. Tapi kita bisa memilih, keluarga seperti apa yang akan kita buat..Walaupun belum pernah melihat raga kakek, belum pernah merasakan sentuhan tangan kakek, saya yakin kakek adalah sosok hebat yang sangat menyayangi keluarga. Saya tidak mengatakan bahwa saya cucu yang kurang beruntung, hanya saja berbahagialah kalian yang masih bisa merasakan kasih sayang kakek dan nenek secara nyata dan utuh.
-- Fazar Firmansyah
Kakek dan nenek adalah sosok pahlawan yang secara langsung dapat saya rasakan dampaknya di kehidupan nyata. Sosok tentara yang disiplin dan sosok guru yang cerdas adalah dua perpaduan yang sempurna bukan? Dari perpaduan sempurna tersebut lahirlah anak-anak dan cucu-cucu yang luar biasa.
Terbit di hipwee tanggal 30 November 2016
Selasa, 08 November 2016
Terima Kasih, Karena Hadirmu Mengajarkanku 5 Hal Berharga ini
Dibawah langit-langit kamar, ditemani lagu Isyana yang kuputar berulang kali hingga tulisan ini selesai kutulis. Juga lagu yang menjadi andalanmu dan sering kamu putarkan saat kita berdua menikmati kemacetan jalanan ibu kota.
"Kau adalah yang terindah yang membuat hatiku tenang"Dipertemukan denganmu adalah anugerah terindah yang semesta berikan padaku, sekalipun semesta tidak pernah setuju atas penyatuan dua hati ini. Tetapi kebahagiaan mengenalmu tak dapat aku tukar dengan apapun.
Ada lima hal yang membuatku tidak menyesal atas cinta tak bisa memiliki ini. Aku yakin kemudian cinta bisa mengalah..
1. Tentang Arti Kehidupan
Ingatkah saat kamu bertanya tujuan hidupku? Aku menjawab sesuai dengan porsiku sebagai belia 20 tahunan. "Mencari kebahagiaan", kataku. Dan ketika aku balikkan pertanyaan itu kepadamu, dengan tegas kamu menjawab tujuanmu dalam hidup adalah untuk membahagiakan banyak orang.
"Dengan adanya hadirku, kuharap orang-orang merasakan bahagia seperti yang kurasa"Paling tidak dengan kalimat sederhana yang kau ucapkan, aku menyadari bahwa hidup bukan tentang kebahagiaanku saja, melainkan kebahagiaan banyak orang, terutama orang-orang disekitarku.
2. Tentang Menjadi Diri Sendiri
Kita sempat berdebat beberapa kali. Mendengar ocehanmu ketika aku tak berperilaku seperti adanya aku. Ketika aku berusaha tampil layaknya orang lain, seolah tak bersyukur atas apa yang aku punya.
"Jangan memerankan orang lain dalam hidup, jadilah apa adanya kamu"Kamu sangat menentang alasanku agar lebih dihargai orang lain, makanya aku berusaha untuk menjadi sempurna, tanpa sadar aku memerankan orang lain. Katamu, penghargaan jangan dicari, selagi ukurannya masih manusia tidak akan ada habisnya. Biarlah Tuhan yang menilai.
3. Tentang Kesedihan yang tidak Berarti Apa-apa
Karena normal setiap manusia bersedih. Aku yang tak henti berkeluh kesah tentang kesedihanku, dan kamu yang tak pernah bosan mendengar keluh-kesahku. Kamu tahu mengapa aku benar-benar mengagumi sosok sepertimu? Karena kamu tidak pernah meninggalkanku sendiri, saat aku diterpa masalah.
"Jangan menganggap dirimu orang yang paling menderita, lihat disekelilingmu, masih ada yang lebih menderita dan lebih bersedih"Dengan sabar mendengarkan cerita kesedihanku, lalu kembali memberi pandangan, bahwa masih ada yang lebih menyedihkan dan lebih menderita daripada aku. Toh, kita ataupun mereka masih bisa melanjutkan hidup, dan harus tetap melanjutkan hidup. Jangan terlalu sering melihat kebelakang, hingga menghabiskan usia produktif hanya karena kesedihan-kesedihan tak berarti.
4. Tentang Menjadi Pribadi yang Baik dari Hari ke Hari
Usiaku yang masih tergolong muda, terkadang dikendalikan oleh ego dan amarah. Saat dikendalikan oleh keduanya, yang ada hanyalah fikiran-fikiran negatif. Saat fikiran negatif itu memecah konsentrasiku, kamu datang sebagai penyejuk agar aku dapat mengendalikan ego dan amarah itu, sehingga aku bisa berfikir jernih kembali.
"Kita dapat membahas apa saja, cari tahu sebanyak-banyaknya, agar otak terisi terus"Perbincangan berkualitas yang setiap hari kita bahas membuatku jadi pribadi yang ingin lebih banyak tahu. Perlahan aku jadi suka membaca, agar tidak dibilang kudet. Aku mencoba-coba jadi penulis amatir, karena katamu menulis adalah cara terbaik untuk menenangkan diri.
Aku tidak mengatakan bertemu denganmu aku langsung menjadi pribadi yang baik, paling tidak saat ini aku mampu menghadapi suatu hal atau masalah dengan logika yang baik, fikiran terbuka dan positif.
5. Tentang Hubungan yang Lebih Menyamankan yaitu Persahabatan
Terkadang aku merasa kesal dan marah sendiri saat menyadari kenyataan bahwa kamu dan aku tidak dapat bersatu dalam sebuah ikatan. Mengutuk keadaan mengapa cinta datang di waktu yang salah.
"Perlahan kamu membantuku melihat kebenarannya, bahwa ada hubungan yang lebih menyamankan dan dapat berlangsung selamanya daripada cinta yang aku sesalkan"Ya, katamu persahabatan ini akan berlanjut selamanya. Setahun, lima tahun, sepuluh tahun, bahkan sampai kulit kita keriput, rambut kita berwarna putih, dan kondisi terparah saat kita tak dapat mengingat lagi satu sama lain.
Karena cinta bukan hanya tentang sepasang manusia yang ingin disatukan dalam ikatan pernikahan. Cinta itu tak terlihat, hanya bisa dirasakan, dirasakan oleh siapa saja dan untuk siapa saja.
Diposting di hipwee.com tanggal 8 November 2016
Selasa, 01 November 2016
Dua Hari..
Dua hari tidak menerima dan membaca pesan singkatmu. Dua hari tidak tahu kegiatan apa saja yang kamu lakukan. Sudah dua hari lamanya, aku hampir terbiasa tanpa suara dan gelak tawa itu. Dua hari, apakah kamu baik-baik saja?
Sudah seharusnya aku belajar tersenyum tanpa pesan singkatmu, tertawa tanpa candamu, bernafas tanpa kehadiranmu.
Tuan, teruslah begini, hingga semua ini benar-benar kita sudahi. Kamu tak perlu datang lagi menawarkan kebahagiaan. Kita hanyalah sepasang yang cintanya tak akan pernah terjadi, kita berdua sangat sadar akan hal itu, semesta tidak akan pernah memihak kita.
Kamu berhak bahagia, begitu pula aku. Kita tetap akan bahagia, meskipun tak bersama.
"Dari aku, yang akan tetap tersenyum sebanyak-banyaknya.
Kamis, 20 Oktober 2016
Selamat datang 25..
Hari ini, 21 Oktober, 25 tahun yang lalu saya hanyalah seorang bayi mungil yang dilahirkan dari seorang ibu tangguh, dibesarkan oleh kedua orang tua dengan kasih sayang yang utuh.
Waktu begitu cepat berlalu, baru kemarin rasanya saya merasakan bagaimana diumumkan menjadi seorang jawara kelas, baru kemarin rasanya saya merasakan menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti pertandingan volley antar sekolah se-provinsi, baru kemarin rasanya saya mengenakan seragam putih abu-abu dan bergelak-tawa di dalam kelas hingga membuat seorang guru matematika menangis, baru kemarin rasanya saya mengejar dosen kesana kemari untuk bimbingan atau sekedar meminta tanda tangan, baru kemarin rasanya saya kesana kemari memasukkan lamaran pekerjaan agar tidak dibilang pengangguran.
Untuk urusan cinta, mungkin saya termasuk golongan orang yang terlambat mengenal cinta. Saat teman-teman saya telah mengenal cinta di bangku sekolah menengah pertama, saya baru bisa merasakan cinta yang sesungguhnya di bangku sekolah menengah atas. Saya masih ingat betul tanggalnya, 24 Januari 2007. Seorang pria yang saya kenal dari media sosial. Terdengar lucu, tapi dialah cinta pertama saya. Pria yang satu tahun lebih tua dari saya. Sayangnya hanya beberapa bulan kisah cinta yang saya dan dia jalani, karena keterbatasan jarak atau yang sering disebut long distance relationship.
Saya wanita yang sulit jatuh cinta, apabila telah menetapkan hati pada satu pilihan, maka akan berusaha mempertahankan apa yang saya pilih. Tapi sayangnya kebanyakan pilihan-pilihan itu salah, mungkin bukan saya yang salah memilih mereka, namun mereka yang salah memilih saya. Hehe..
Termasuk jatuh cinta yang saya rasakan hingga hari ini. Bukan perkara jatuh cintanya, tapi dengan siapanya. Lagi dan lagi sepertinya pilihan hati saya salah. Seorang pria yang tak bisa saya jamah hatinya. Bertepuk sebelah tangan? Tidak juga.. Bukan itu masalah utamanya. Ada baiknya saya berfikir, menerima kenyataan tidak akan pernah bisa menjadi bagian hidupnya lebih indah daripada terus-terusan berada di pelukannya dalam ketidakpastian.
Seperti artikel-artikel yang saya baca, mungkin saya dalam fase krisis seperempat baya, yang katanya terjebak pilihan-pilihan dalam hidup, fase dimana merasa hidup secara autopilot.
Tetap saja hidup bukan tentang teori-teori yang kita baca pada artikel. Beruntung jika teori tersebut bisa diaplikasikan ke kehidupan nyata. Nah, kalau orangnya bebal seperti saya bagaimana? Mau teori atau nasehat, kalau hati yang sudah berbicara logika selalu kalah. Semoga akan berubah seiring bertambahnya usia dan kedewasaan. Yang saya Ingin adalah tersenyum sebanyak-banyaknya dan mengurangi kesedihan, mungkin untuk bersedih saya beri waktu satu jam saja.
Daripada memikirkan cinta-cintaan atau kesedihan-kesedihan yang tidak berguna, lebih baik saya mulai memikirkan pekerjaan yang dapat menjadi sandaran saya hingga tua nanti (baru juga 25 udah mikir hari tua), bagaimana caranya menggendutkan tabungan, memiliki benda-benda berharga, konsep pernikahan (cari aja dulu calonnya!). Ah, begitulah! Memang banyak maunya.
Alangkah saya menikmati segala proses dan pencapaian hingga hari ini. Tumbuh dan berkembang di keluarga yang mendukung penuh segala keputusan saya. Mempunyai sahabat yang tidak pernah meninggalkan saya dalam keadaan apapun. Bertemu dengan orang-orang bijak yang menjadikan saya pribadi yang bijak pula, yang mengajarkan saya bagaimana menjadi sebaik-baiknya manusia. Dibuat jatuh bangun oleh cinta. Setiap orang yang datang dan pergi, saya percaya mereka dihadirkan untuk mengajarkan.
Tidak henti-hentinya saya berucap syukur atas nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Saya bangga dan teramat bahagia menjadi saya..
Jumat, 07 Oktober 2016
Menuju DKI 1..
Pic: http://www.plimbi.com/article/163742/cagub-alternatif-dki1-untuk-jakarta-berwarna-
Rutinitas saya di pagi hari, sama seperti biasanya. Bangun, kemudian mandi, kemudian berangkat ke kantor, kemudian menyalakan komputer, kemudian menyempatkan diri beberapa menit untuk sedikit menambah wawasan. Yap! Membaca berita.
Bedanya dengan hari-hari kemarin, ada berita yang paling menggelitik dan masih ramai diperbincangkan hingga sore ini, yaitu mengenai Bapak DKI 1 atau Bapak Basuki atau Bapak Ahok yang (katanya) sebut Al Quran sebagai kitab yang membodohi umat islam.
Penasaran dimulai, saya mencari rekaman video yang berisikan pendapat Bapak Ahok mengenai kitab yang membodohi tersebut. Rekaman berdurasi 1 jam 48 menit, lokasinya di Kepulauan Seribu, disaksikan oleh warga setempat dan juga beberapa media, sesi tanya jawab berlangsung meriah, sebenarnya bukan tanya jawab, lebih ke diskusi antara warga dan sang gubernur. Meskipun tidak semua yang ingin bertanya atau berpendapat dapat menyalurkan unek-uneknya karena keterbatasan waktu, Bapak Ahok masih memberi kesempatan kepada beberapa orang warga.
Pada video tersebut jelas Bapak Ahok mengatakan jika tidak terpilih pun (menjadi gubernur) program akan terus berjalan, warga bisa saja tidak memilih (Pak Ahok) karena dibohongi pakai surat Al Maidah Ayat 51 (tafsiran Al Maidah ayat 51: jangan mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin). Bapak Ahok juga mempersilahkan warga untuk tidak memilihnya apabila ada calon pemimpin yang lebih baik dan lebih jujur.
Lalu letak kesalahannya dimana? Berulang kali saya memutar video tersebut pada menit ke 23 hingga 25. Apa karena saya mengaggumi Bapak Ahok sehingga tidak melihat kesalahan seperti yang orang-orang lihat? Tidak juga. Saya masih dapat berfikir menggunakan logika. Apalagi ini menyangkut agama. Saya muslim, sedikit banyak tahu lah tentang agama.
Pemberitaan miring yang saya baca, Bapak Ahok sebut umat islam telah dibohongi sutrat Al Maidah Ayat 51. Kalau membaca berita sepotong-sepotong (mungkin) saya juga akan membenci Bapak Ahok. Kitab agama saya dilecehkan, jelas saya berontak. Tapi faktanya kan bukan begitu. Maksud Bapak Ahok di video itu, kita (umat muslim) jangan mau dibodohi menggunakan surat Al Maidah Ayat 51. Siapa yang membodohi? Tentunya pihak-pihak yang berkepentingan, yang tidak menginginkan Bapak Ahok untuk maju kembali menjadi DKI 1.
Wajar sih menjelang pilkada akan ada saja berita-berita semacam ini. Intinya hak pilih ada ditangan masing-masing individu bukan? Kita akan memilih pemimpin yang sesuai dengan hati nurani kita, pemimpin yang menurut kita dapat memimpin daerah dengan baik, tanpa paksaan dari pihak manapun. Mau itu Bapak Ahok, Bapak Anis, ataupun Bapak Agus, percayalah berita miring mengenai ketiga tokoh ini akan berseliweran di pemberitaan pilkada. Intinya sejauh mana kita dapat mencerna berita tersebut. Mau kita tanggapi secara positif atau negatif. Semua punya hak yang sama dalam berpendapat. Tidak usah berargumen ini itu agar dibilang benar, karena jika salah akan malu sendiri nantinya.
Selasa, 06 September 2016
Tujuh September untuk yang ke-empat-puluh-tujuh kalinya
Dear ibundaku tersayang, mama..
Empat puluh tujuh tahun yang lalu di tanggal tujuh bulan September tahun seribu sembilan ratus enam puluh sembilan, mama lahir ke dunia. Dibesarkan oleh seorang wanita dan pria yang luar biasa, nenek dan kakek yang saya sayangi.
Dua puluh lima tahun yang lalu di tanggal dua puluh satu bulan Oktober tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh satu, mama melahirkan saya ke dunia, menjadi seorang ibu. Dengan kasih sayang yang tak kalah luar biasa membesarkan saya, seperti saat nenek membesarkan mama.
Selama dua puluh lima tahun, banyak hal yang mama lalui dalam membesarkan saya. Jalannya tidak selalu mulus. Saya tahu. Saat waktu tidur mama terganggu akibat pekikan saya di malam hari karena kehausan ingin minum susu atau akibat popok yang basah. Saat mama menatah saya belajar berjalan hingga bisa berlari dengan dua kaki saya sendiri. Saat celotehan saya mengganggu hari-hari mama dengan pertanyaan yang tidak penting, mama tetap meladeni dan menjawab dengan sabar.
Bahkan ketika tumbuh menjadi remaja, mama cukupkan segala kebutuhan saya. Menyekolahkan saya, hingga saat ini saya menjadi seorang sarjana. Padahal pendidikan terakhir mama hanya tamatan SAA (setara SMA), mama selalu mengatakan, bahwa saya harus bisa lebih hebat daripada mama.
Ma, tahukah mama, rasanya sungguh berat untuk bisa menjadi seperti mama. Wanita tangguh yang mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri, melakukan segala hal dengan kedua tangannya sendiri, tentunya dengan kecerdasan yang mama miliki. Hingga saat ini saya berusia dua puluh lima tahun, saya masih merasa belum ada apa-apanya.
Mama membesarkan tiga orang anak dengan tiga kepribadian yang berbeda. Saya paham betul yang mama rasakan ketika menghabiskan banyak uang untuk menyekolahkan abang, tapi tidak dapat melihatnya memakai toga. Saya juga selalu merasa berdosa ketika mengingat saat saya tidak menghiraukan mama karena melarang saya berhubungan dengan lelaki yang menurut mama tidak baik untuk saya, naluri seorang ibu yang saya patahkan saat itu. Dan saat ini tengah berjuang kembali menyekolahkan adik yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Saya tidak pernah mendengar keluhan dari bibir mama. Mama pun tak pernah menuntut apa-apa dari saya, mama hanya berbahagia melihat pencapaian dan perkembangan saya hingga hari ini.
Wanita yang selalu saya banggakan, selamat ulang tahun untuk yang ke empat puluh tujuh kalinya. Terimakasih telah membesarkan dan menjadi ibu yang teramat baik.
Sehat-sehat selalu ya ma..
Saya berharap Tuhan selalu melindungi mama, Tuhan memberikan izin agar mama dapat melihat perkembangan saya hingga nanti. Menjadi orang yang paling bahagia seiring perjalanan hidup saya.
Maafkan ulang tahun kali ini saya tidak berada dekat dengan mama, memberikan kue ulang tahun dengan hiasan lilin yang selalu saya bawa ke hadapan mama setiap pukul 00.00 untuk ditiup dan dipotong, serta tidak dapat memeluk erat tubuh mama.
Wanita yang selalu saya rindukan, sejauh apapun jarak saya dan mama saat ini, saya percaya hati kita berdekatan. Tuhan selalu punya cara menghangatkan walaupun dengan tidak berpelukan.
Sekali lagi terimakasih telah menjadi ibu luar biasa untuk kami.
Love
Your Daughter
Dhea
Sekali lagi terimakasih telah menjadi ibu luar biasa untuk kami.
Love
Your Daughter
Dhea
They are not your enemies, they are truly your friends!
Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman pada sebuah cafe di Gandaria City. Teman yang dahulunya berlabel 'musuh', belum pernah bertemu secara nyata, dan hanya berkomunikasi di media sosial. Terkesan mengerikan karena akan bertemu 'musuh' lama yang katanya sudah 'tidak ada dendam diantara kita'.
Namanya Putri Inggi Aditya, mantan kekasih dari mantan saya. Kita sama-sama mantan nih ceritanya? Hehe.
Sekilas tentang perkenalan bodoh dari dua orang tolol, I guess. Sekitar tahun 2009 (kalau tidak salah) ketololan dua wanita akibat seorang pria brengsek yang mereka sayangi melebihi apapun di dunia. Dua wanita yang rela berdarah-darah demi mendapatkan perhatian dari si pria brengsek. Tanpa mereka sadari sang pria hanya mencari untung dari hubungan yang mereka jalani.
Dua wanita tolol bertahun-tahun bersitegang mencari kesalahan satu sama lain. Pada akhirnya wanita tolol yang pertama menyerah untuk tidak melanjutkan peperangan tersebut. Wanita tolol kedua masih kekeuh dengan hubungan yang ia jalani dengan pria brengsek tadi. Pada akhirnya si wanita tolol kedua menghadapi pahitnya kenyataan, habis-habisan karena cinta, bukan hanya materi, bahkan cinta dari sang pria pun tak ia dapatkan (habis), dan harus menerima dengan lapang dada bahwa sang lelaki telah memilih jalan hidup baru dengan menikahi wanita lain. Percayalah, Tuhan menyelamatkan hidupmu, teman.
Cukup untuk cerita masa lalu yang penuh kemunafikan.
Empat tahun, dimulai dari tahun 2012, Inggi dan saya tidak berkabar satu sama lain. Inggi yang tadinya berisik di segala media sosial mendadak hilang dari peradaban. Tidak terlalu penting untuk tahu kabarnya, kita kan 'musuh', benar tidak?
Saya jawab tidak. Mungkin ada yang menilai, jawaban saya terkesan munafik. Bebas.
Entah mengapa saat pindah ke Jakarta, nama yang satu ini menjadi daftar orang yang wajib saya temui. Gayung bersambut, Inggi mengaktifkan kembali media sosial yang sudah lama ia tinggalkan, sudah penuh jaring laba-laba barangkali. Saat saya coba menghubunginya, ternyata Inggi sudah bekerja di negara Singa.
Nah.. Tepatnya 2 September 2016 lalu, Inggi mendapat tugas ke Indonesia. Ia langsung memberi kabar dan mengajak saya bertemu, lalu saya menyetujui ajakannya. Sebagai orang yang blak blakan dia bertanya, "Apakah pertemuan ini murni untuk sekedar ngobrol?" Lha, pertanyaannya sontak bikin saya gagal paham. Apakah ini terlihat semacam jebakan? Lalu saya jawab dengan banyolan garing, "kalau gue sih iya, pengen ngobrol. Ngga tau deh lo. Tapi kalau datang duluan di TKP, jangan pesanin kopi buat gue".
Malamnya, sekitar pukul 19.00 saya dan Inggi bertemu, tidak terlihat kecanggungan, justru terlihat seperti teman lama yang sudah belasan tahun tak bertemu. Lebay? Bodo. Percakapan sambung menyambung dari cafe satu ke cafe lain, dari pukul 19.00 hingga pukul 00.30. Wow banget ngga tuh?
Pertemuan dan percakapan yang berlangsung 5 jam lebih itu dirasa masih kurang. Inggi dan saya membahas ketololan masa lalu masing-masing. Menemukan jawaban atas permusuhan yang selama ini dia dan saya perankan. Tapi, tanpa masa lalu yang kelam itu, mungkin kita berdua tidak akan seperti ini. Lagi-lagi ada sesuatu yang patut disyukuri bukan?
Hal terpenting dari pertemuan ini adalah, saya mendengar perjalanan dan perjuangannya bangkit dari titik paling rendah (nol) hingga mampu berdiri kembali, bukan hanya untuk dirinya sendiri, bahkan untuk keluarganya. Kisah-kisah yang dia ceritakan menjadi pelajaran berharga, khususnya untuk saya pribadi. Tentang bagaimana bisa survive. Tentang bertemu dengan seorang pria yang jauh lebih baik daripada pria di masa lalu.
"Gue harap pertemuan selanjutnya, kita bisa sharing pengalaman-pengalaman seru lainnya ya, Nggik"
Ternyata benar, siapapun orangnya, bagaimanapun keadaanya saat dipertemukan, orang tersebut bukan dengan tidak sengaja dihadirkan dalam hidup kita. Mereka ada untuk mengajarkan. Saya tidak percaya akan istilah 'musuh', bagi saya 'musuh' adalah teman yang sebenarnya. Bukannya hanya yang berlabel 'musuh' yang mampu mengkritik dengan sangat pedas dan apa adanya?
Selasa, 23 Agustus 2016
21 + 4 facts about me
Mengapa 21 + 4 fakta tentang saya? Sederhana, saya lahir pada tanggal 21 dan tahun ini saya memasuki usia seperempat abad atau dua puluh lima tahun.
Dhea itu...
- Anak kedua dari tiga bersaudara
- Lahir di hari ke-21 pada bulan Oktober tahun 1991
- Tinggi 164cm, berat badan (saat ini) 57kg
- Cita-cita (dari kecil) ingin jadi dokter, tapi Tuhan berkata lain
- Cita-cita (saat ini) menjadi orang yang berpengaruh
- Dari SD hingga SMP menjadi juara kelas, eh pas SMA malah ngga pernah masuk sepuluh besar
- Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi
- Lebih tertarik pada bidang Perpajakan
- Butuh waktu satu tahun menyelesaikan skripsi, faktor: kemalasan
- Pernah jadi pengusaha Apotek, karena ngga diseriusin mending ditutup saja
- Sedang proses untuk merintis usaha lagi, amin
- Sedang proses mencari jati diri
- Pencinta olahraga terutama bola voli
- Pencinta angka 21 dan 24
- Punya banyak teman dan sahabat
- Punya banyak kekurangan, terutama dalam hal komunikasi, tapi suka berbagi cerita
- Baru-baru ini mencintai menulis
- Baru-baru ini gemar membaca berita
- Tidak suka makanan berbau santan
- Lebih suka pecel ayam dan empek-empek
- Susah jatuh cinta, sekalinya cinta dengan seseorang, susah untuk berpaling, ciyee...
- Kalau kata mama, "anaknya batu banget"
- Kalau kata sahabat, "mantannya banyak", tolong digaris bawahi, "saya baru pacaran 9 kali, yang diseriusin cuma 4 orang"
- Kalau kata mantan, "hubungan ini tidak bisa kita lanjutkan", eh gagal fokus
- Hingga tulisan ini selesai ditulis, masih berstatus 'single' -- bukan promosi lho
Sekian fakta tentang saya.. Saya bersyukur terlahir sebagai saya..
Tulisan ini dibuat karena sudah beberapa hari bahkan beberapa minggu ini otak saya buntu mencari topik untuk menulis.
Tulisan ini dibuat karena sudah beberapa hari bahkan beberapa minggu ini otak saya buntu mencari topik untuk menulis.
Minggu, 21 Agustus 2016
14.20 It's still you?
These days it feels like you're mine,
it seems like you're mine but no.
It feels like I'm yours,
it seems like I'm yours but no.
What are we? I'm confused
Don't be aloof.
Whatever you see me,
you act so vague to me.
These days I hate hearing I'm just like a friend.
Btw, thanks to my lil sister for being inspiration to this sh*it quote :)
Rabu, 10 Agustus 2016
Nelangsa hari ini...
Setiap manusia mempunyai kegetiran yang sama bukan? Hanya saja kemasanya yang berbeda.
Seperti saya yang hari ini dengan gagah berani memainkan jari-jemari, mengetik kata demi kata yang kemudian menjadi onggokan kalimat sampah, dan pada akhirnya bau dari sampah itu membunuh saya perlahan. Anda tahu betapa menyiksanya itu?
Wahai Tuan berparas tampan, Anda tidak pernah salah, jangan menyiksa saya dengan permintaan maaf Anda yang berulang kali. Saya saja, yang terlalu mengikuti perasaan keparat ini, berusaha menutup mata, telinga, bahkan hati. Tapi lagi-lagi Anda menguatkan saya, mengatakan tidak ada yang salah dengan rasa, itu datang secara alami, Tuhan tahu itu. Tapi Tuhan lebih tahu, rasa yang kupunya ini suatu kesalahan -- untuk orang yang salah.
Mungkin hari ini hingga hari-hari selanjutnya tidak akan pernah sama dengan hari kemarin dan hari-hari sebelumnya. Hari-hari dimana saya salah mengartikan hubungan pertemanan yang kita jalin. Saat pesan singkat Anda menjadi notifikasi favorit saya, atau dengan senang hati menerima ajakan Anda untuk sekedar makan malam.
Saya tahu Anda tidak setuju dan tidak akan pernah setuju dengan keputusan sepihak ini. Anda kebingungan, saya maklum, tapi saya harus.
Bagaimanapun saya harus menata hidup, benar yang orang-orang katakan, bagaimana bisa menemukan orang yang tepat, sementara perasaan saya masih terkunci rapat. Ternyata Andalah pemegang kunci itu.
Tapi Tuan, saya tidak akan semena-mena mengakhiri persahabatan ini. Saya hanya butuh waktu sejenak untuk menetralkan perasaan saya. Hingga seseorang yang tepat benar-benar terpampang dihadapan saya, mengisi hari-hari nyata saya, bukan semu semata. Membuka kunci yang Anda tinggalkan dan menggantinya dengan kunci yang baru. Setelah itu, saya pastikan tidak akan ada celah di hati saya untuk Anda.
Seperti kalimat yang sering Anda katakan, "boleh marah, boleh kecewa, boleh mewek sejadi-jadinya, tapi langsung bangkit sejam berikutnya"
Jadi selama ini akal sehat saya terhenti karena Anda? Tidak juga sih... ;)
Selasa, 09 Agustus 2016
#hestek hari ini, #RIPBroadcasterRio2x
Olimpiade Musim Panas atau akrab didengar Olimpiade Rio 2016 adalah ajang olahraga internasional yang diadakan di Rio de Janiero, Brasil. Olimpiade ini diselenggarakan dari tanggal 5 hingga 21 Agustus 2016.
Olimpiade internasional yang diadakan 4 tahun sekali ini memperlombakan 28 cabang olahraga dengan total 306 pertandingan, lebih dari 11.000 atlet turut berpartsipasi dalam ajang ini, 28 diantaranya merupakan atlet Indonesia yang akan berlaga di 7 cabang olahraga.
Sebagai masyarakat Indonesia yang (paling engga) punya sedikit jiwa nasionalisme, tentu ingin menyaksikan yang menjadi kebanggaan ini berjuang. Alih-alih menonton dan memberikan dukungan secara langsung di Rio de Janiero, untuk menonton dan mendukung di depan layar televisi saja sulit rasanya. Dua stasiun televisi swasta yang menjadi official broadcaster pun (sepertinya) ogah-ogahan menyiarkan ajang bergengsi ini.
Saya menyimak beberapa kicauan netizen yang mengatakan broadcaster lebih mementingkan sinetron ketimbang siaran langsung atlet Indonesia yang sedang berlaga. Sehingga hestek #RIPBroadcasterRio2x berhasil menjadi trending topic di Twitter. Beberapa meme pun turut menghiasi hestek tersebut. Miris.
Daya tarik Olahraga itu adalah Proses & Perjuangannya. Bukan sekedar hasil menang kalahnya. Catet !! #RIPBroadcasterRio2x @SCTV_ @IndosiarID— antonius agustian (@antoagustian) August 9, 2016
— Indonesia Badminton (@INA_Bminton) August 9, 2016
Ada apa sesungguhnya dengan dua stasiun televisi swasta yang sudah mengudara puluhan tahun ini? Entahlah. Yang saya dan masyarakat tahu, keduanya merupakan official broadcaster Olimpiade Rio 2016. Dan yang saya dan masyarakat inginkan, tentu melihat sejauh mana komitmen stasiun televisi ini menyiarkan secara langsung pertandingan Olimpiade Rio 2016.Taggar #RIPBroadcasterRio adlah sinyal positif, btp anak2 muda kita menjalankan rasa kebangsaannya dgn caranya sendiri. Salam— Mulfachri Harahap (@MulfachriH) August 7, 2016
Mengutip kicauan dari @antoagustian tentang daya tarik olahraga itu adalah proses dan perjuangannya. Bukan sekedar hasil menang kalahnya. Bagaimana rasa nasionalisme bisa tumbuh, sementara yang sering dipaparkan hanyalah hasil setelah proses dan perjuangan tersebut. Bukankah ini menjadi beban tersendiri? Secara tidak langsung menumbuhkan stigma bahwa segala sesuatu itu yang terpenting hanyalah hasil.
Tidak. Pandangan seperti itu harus jauh-jauh dari pemikiran kita. Bagaimanapun, segala sesuatu harus melalui proses dan butuh perjuangan. Seperti pahlawan olahraga yang tengah berjuang memperoleh medali untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasioal. Agar kita bahkan adik-adik yang masih duduk dibangku sekolah tahu, bahwa pahlawan itu bukan cuma nama yang tertera pada buku sejarah mereka. Bahkan merekapun adalah calon pahlawan bagi negara ini kelak. Mereka yang bermental pejuang, bukan mereka yang menjadi drama king atau drama queen akibat keseringan nonton sinetron bermental 'tempe'.
Paling engga kita berjuang dan berkorban dulu, apabila tidak juga disiarkan, kita masih bisa streaming di ponsel pintar, bukan?
Kamis, 21 Juli 2016
15 Things Every Girl Should Do Before Getting Married
Menikah? Kawin? Rumah Tangga?
Halah. Kata-kata mainstream yang akan menjadi suatu keharusan untuk didengar. Si 'Anu' nikah lho bulan ini, lo kapan Nikah?
Untungnya saya bukan tipikal manusia yang liat teman/sahabat/orang lain nikah, ingin nikah juga. Ingin sih ingin, tapi ngga langsung saat itu juga cari calon lalu diajak nikah.
Masih 25 tahun ini, masih ada waktu lah ya..
Baca artikel Bisnis.com tentang 15 hal yang perlu dilakukan perempuan sebelum menikah. Menarik dibahas nih. Soalnya setelah menikah, ruang gerak perempuan pasti terbatas. Syukur-syukur punya suami yang mengerti, pun mengerti, kodrat sebagai perempuan ngga bisa dihindari.
Lakukan dulu beberapa hal berikut ini sebelum menikah. Hey ladies, come on!
1. Berlibur bersama saudara perempuan, baik adik dan kakak kandung atau sepupu. Bisa juga dengan sahabat perempuan Anda.
1. Berlibur bersama saudara perempuan, baik adik dan kakak kandung atau sepupu. Bisa juga dengan sahabat perempuan Anda.
Poin pertama, jelas sudah dong! Karena saya tidak punya saudara perempuan. Maka traveling partner yang paling paling top markotop adalah ibu saya. Dalam waktu dekat akan berlibur bersama para sepupu dan sahabat saya, Bella.
2. Pergi berlibur dengan calon suami, untuk melihat bagaimana Anda dan si dia menjalani perjalanan tersebut berdua.
2. Pergi berlibur dengan calon suami, untuk melihat bagaimana Anda dan si dia menjalani perjalanan tersebut berdua.
What? Calon? Belum ada. Ada rekomendasi selain calon suami? Pinjam suami orang atau teman misalnya? Ok, Cukup! Saya bercanda...
3. Merasakan patah hati yang sangat menyakitkan.
Dua poin. Saya terlatih patah hati. Bahkan hal yang paling menyakitkan, ketika keluarga sang mantan turut serta memporak-porandakan.
4. Meninggalkan seseorang.
Tiga poin. Sebagai seorang wanita yang cukup menarik (alhamdulillah, amin), meninggalkan pria beberapa kali wajar lah ya. Terlebih bila si lelaki tak berpendirian. (Congkak) Bye!
5. Atur keuangan. Pastikan Anda tidak punya utang sebelum menikah, supaya tidak membebani suami nantinya.
5. Atur keuangan. Pastikan Anda tidak punya utang sebelum menikah, supaya tidak membebani suami nantinya.
Hahaha.. Saya masih punya hutang dengan si mba jamu langganan dan si ibu dokter cantik. Akan diselesaikan dalam waktu dekat, kok.
6. Bicara soal finansial dengan calon suami.
Ini apa ngga ada hal lain yang bisa dilakukan apa? Calon suamiku masih ditangan Tuhan.
7.Tinggal sendiri, atau bisa juga bersama teman.
Empat poin. Baru bisa merasakannya di umur 24 jalan 25 tahun. Not bad! Saya jadi lebih mengerti arti dari kemandirian. Meskipun sering dilanda rindu keluarga.
8. Belajar memasak.
8. Belajar memasak.
Lima poin. Sebagai keturunan suku Minang, pandai memasak adalah wajib hukumnya bagi wanita!
9. Memanjakan diri sendiri.
9. Memanjakan diri sendiri.
Enam poin. Baru bisa merasakan lagi memanjakan diri, kali ini bahagia bukan kepalang karena pakai duit sendiri tentunya. Setelah keluar dari lembah hitam kemunafikan (kalau kata anak-anak kantor).
10. Bertengkar hebat dengan calon suami.
10. Bertengkar hebat dengan calon suami.
Di skip sajalah.
11. Pergi berkencan. Nikmatilah masa muda Anda dan bertemu dengan beberapa macam tipe pria untuk mengetahui mana yang paling cocok untuk Anda.
11. Pergi berkencan. Nikmatilah masa muda Anda dan bertemu dengan beberapa macam tipe pria untuk mengetahui mana yang paling cocok untuk Anda.
Tujuh poin. Sedang dicoba walaupun tak bisa sepenuh hati.
12. Hadapi ketakutan terbesar Anda.
12. Hadapi ketakutan terbesar Anda.
Delapan poin. Tidak bisa survive di kota orang salah satu ketakutan terbesar. Dan saya bisa menghadapinya..
13. Miliki teman tapi mesra, hanya agar Anda tidak penasaran lagi di kemudian hari.
Sembilan poin. Tidak penasaran, tapi kalau kebablasan baper gimana ya? Bukan teman tapi mesra lagi dong, jadinya teman tapi ngarep (dipacarin). Gitu?
14. Fokus pada pendidikan dan karir.
14. Fokus pada pendidikan dan karir.
Sepuluh poin. Karir alhamdulillah so far lancar-lancar saja. Pendidikan? Insyaallah tahun depan lanjut. Amin ya Rabb..
15. Jaga kesehatan. Tubuh adalah aset Anda, jadi mulailah hidup sehat, hindari alkohol, jauhi rokok, makan teratur, dan olaraga.
15. Jaga kesehatan. Tubuh adalah aset Anda, jadi mulailah hidup sehat, hindari alkohol, jauhi rokok, makan teratur, dan olaraga.
Berat ya embel-embel kesehatan. Saya bukan alkoholik, tapi berada pada lingkungan berasap rokok, makan teratur, cuma buat rutin olahraga sulit rasanya di kota besar ini..
Rabu, 20 Juli 2016
Gonjang-ganjing, Morat-marit, Bla~bla~bla..
Dampak yang kian terasa sesak oleh beberapa orang di kantor saya, orang-orang yang menjadi kunci kelangsungan hidup perusahaan. Sebut saja mereka pahlawan income.
Sudah lewat satu semester di tahun ini, pergerakan perusahaan lamban seperti kura-kura. Perusahaan tidak bangkrut, hanya saja tidak ada peningkatan pendapatan yang signifikan.
Pahlawan income yang berjumlah tiga orang sedang morat-marit, direktur sudah mengeluarkan taringnya memberikan warning. "Akhir bulan ini batas akhir" katanya. Saya tidak begitu paham sesungguhnya maksud dari 'akhir' itu.
Akhir-akhir ini direktur dan tiga pahlawan income sering melakukan meeting tertutup, internal tim mereka lah. Teman sekamar saya (sebut saja B) yang salah satu dari tim itu tak bisa menyembunyikan kegaduhan hatinya. Bercerita terkait nasib timnya saat ini.
Inti yang dapat saya simpulkan dari obrolan dengan B, bahwa perusahaan tidak sanggup lagi mengeluarkan gaji (tim mereka), karena satu semester ini pahlawan income tidak mendapat project, artinya mereka tidak memenuhi target.
Kejam? Tidak. Menurut saya direktur sudah cukup toleransi. Satu semester, artinya enam bulan, pahlawan income masih diberi kesempatan mendapat gaji seperti karyawan lain, pun tanpa menghasilkan. Untuk ukuran perusahaan menengah, gaji pahlawan income di perusahaan ini termasuk yang Wah! Mewah lah mewah..
Dua orang lagi dari tim ini sebut saja Pak F dan Pak J. Saya tidak melihat kegelisahan pada wajah pak F, beliau tetap masuk kerja tanpa beban, mencoba mencari peruntungan hingga akhir bulan ini. "Kalau tidak bisa juga, mau bagaimana lagi, saya bersedia freelance" katanya. Barangkali, karena Pak F berasal dari keluarga yang cukup mapan, kegelisahan bukanlah hal yang patut dirasa-rasa.
Beda hal dengan B, si muda pekerja keras yang sejak tamat sekolah menjadi tulang punggung keluarga, tampak semangatnya memudar setelah beberapa project besarnya di hold. "Tidak ada kesempatan lagi", celetuknya. Bagaimanapun ia harus segera mencari pekerjaan baru yang dapat membantunya meringankan beban keluarga.
Lain Pak F, lain B, lain pula Pak J, pentolan pahlawan income ini sudah tiga hari tak datang ke kantor. Kabar terakhir, beliau sedang mengunjungi beberapa customer bersama technical. Pak J harus memperjuangkan nasibnya dan nasib dua orang dibawah naungannya. Hanya helaan nafas panjang yang dapat saya dengar ketika Pak J beberapa kali lewat di depan meja kerja saya dalam waktu sebulan ini.
Siapa yang bisa disalahkan? Mereka bekerja, mereka mencari, mereka berusaha. Perusahaan yang mereka tawarkan barangkali butuh, lagi-lagi faktor ekonomi perusahaan menjadi penentu.
Pelik memang, gonjang-ganjing kian terasa. Bukan hanya pahlawan income yang merasa, juga berdampak pada seluruh karyawan. Siap atau tidak siap kenyataan harus dihadapi, tantangan harus diakhiri dengan kemenangan. Semoga ada keajaiban yang membuat tim ini bertahan. Cayoo pahlawan income....!!!!
Jumat, 15 Juli 2016
Pemuja Rahasia
Nulisnya sambil dengarin lagu Pemuja Rahasia - Sehaila On 7. Band yang pernah hits pada zamannya ini masih enak dinikmati, masih syahdu didengar. Penilaian pribadi, sih..
Dengarinnya ditemani segelas cappuccino hangat yang perlahan gue seruput di ruang kerja yang dingin keparat. Cuaca sore ini mendung, semendung hati sang pemuja rahasia yang sudah tidak rahasia lagi.
Ngutip sebait saja..
Karena hanya dengan perasaan rinduku yang dalam padamu
Kupertahankan hidup
Maka hanya dengan jejak-jejak hatimu
Ada artiku telusuri hidup ini
Selamanya hanya ku bisa memujamu
Selamanya hanya ku bisa merindukanmu
Asoooy banget dah! Lirik lagunya mas Duta & friends ;)
Cukup terwakilkan lah ya untuk para pemuja rahasia.
Btw, gue dengarin lagu pemuja rahasia, ditemani segelas cappuccino yang mulai mendingin, sambil ngetik blog ngga jelas ini, dan masih menjadi pemuja rahasia lo!
Langganan:
Postingan (Atom)











