Selasa, 19 Juli 2016

Perspektif Makhluk Mars


Tulisan ini terinspirasi ketika berjalan dari kos menuju kantor tadi pagi, saya melihat seorang Bapak yang sedang menggendong bayinya dibawah sinar mentari. Seperti yang biasa kita semua lihat, bayi baru lahir dijemur agar tercegah dari penyakit 'kuning' atau biasa dikenal dengan bayi kuning.

Muka si Bapak sumringah. Ada kepuasan batin yang belum tentu semua makhluk Mars bisa rasakan. Seperti itulah sepertinya yang ada difikiran sang Bapak saat menggendong bayinya.

Saya penasaran dengan pemikiran lelaki tentang pernikahan dan anak. Beberapa ada yang beranggapan tujuan pernikahan adalah untuk menghasilkan keturunan (anak). Apakah cukup sampai disana? Lalu cinta terhadap pasangannya (istri)?

Saya pernah bertanya kepada beberapa orang teman lelaki tentang arti dari pernikahan. Diam-diam juga mengamati jalan hidup beberapa pasangan setelah menikah. Saya rasa penting, karena suatu saat saya akan menjalaninya.

Saya bertanya kepada seorang teman yang sudah menikah,

"Apakah bahagia dengan pernikahan?"

"Bahagia"

"Bagus"

"Setelah punya anak" (lalu hening)

Saya tertegun. Edan. Jawaban absurd macam apa ini? Jadi pernikahanmu atas dasar apa toh, mas?

Saya bertanya lagi pada teman yang sudah berumur tapi belum menikah,

"Apa pandangan kamu tentang sebuah pernikahan?"

"Pernikahan suatu yang kompleks, bukan cuma soal komitmen dan tanggungjawab, cinta tetap harus tumbuh seiring berjalannya waktu, karena pernikahan berjalan seumur hidup"

Sependapat. Sebagai seorang wanita, tentu saya ingin cinta sang pria tak memudar, sekalipun nantinya ada makhluk baru yang akan mengalihkan cintanya, saya harap cinta akan terus bertambah.

Saat bertanya pada teman sebaya yang belum menikah,

"Apa tujuan pernikahan bagimu?"

"Menikah itu untuk meminimalisasi kekhilafan, bebas melakukan seks pada yang halal, terakhir tanggungjawab sebagai kepala rumah tangga"

Ya, ya, lelaki punya persepsi masing-masing soal pernikahan. Saya tak menyalahkan jawaban teman tentang bebas melakukan seks pada yang halal. Semoga niat menghalalkan atas dasar cinta pula.

Saya pernah mengamati rumah tangga kakak dari teman saya, suami (kakak teman saya), mungkin terlalu cinta dan terlalu menjaga anak, ketika anaknya menangis, lantas menyalahkan istri (kakak ipar teman saya) atas ketidakbecusan menjaga anak. Padahal, seorang anak menangis adalah hal yang wajar. Kecuali si anak menangis karena sang ibu tidak memberi makan atau lain sebagainya yang membahayakan anak. Mungkinkah cintanya terhadap istri memudar? Harusnya tidak.

Kegagalan suatu pernikahan, apakah bisa menyalahkan satu pihak? Jelas tidak. Jika pernikahan dilandaskan atas dua anak manusia yang sama-sama punya cinta, kemungkinan gagal dalam pernikahan akan kecil. Sekalipun dilanda prahara kehidupan, cinta, akan jadi tembok pelindung.

Tidak ada lagi istilah "perselingkuhan", tidak ada lagi kata "perpisahan", tidak ada lagi kalimat "anak menyelamatkan rumah tangga",  tidak ada lagi yang tidak-tidak.


Tulisan ini sudah diedit dan diterbitkan di hipwee.

3 komentar:

  1. ini crta atau pengalaman sendiri??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerita dari beberapa orang sahabat :)

      Hapus
  2. Hello . Want to share your blog with the world? To find people who share the same passions as you? Come join us.
    Register the name of your blog URL, the country
    The activity is only friendly
    Imperative to follow our blog to validate your registration
    We hope that you will know our website from you friends.
    http://world-directory-sweetmelody.blogspot.com/
    Have a great day
    friendly
    Chris
    We follow your blog, please Follow our return
    All entries will receive a corresponding Arwards has your blog

    BalasHapus